PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI COVID-19
Pada awal Maret 2020 banyak orang mulai membicarakan Corona , penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini sebenarnya sudah lama keberadaannya, awalnya dari negara Cina yaitu di kota Wuhan, yang sudah membawa korban ribuan orang meninggal dunia. Ketika itu di Indonesia masih tenang karena memang belum ada orang yang sakit Corona.
Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis Coronavirus, orang dapat tertular Covid-19 dari orang lain yang terjangkit virus tersebut. Covid-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan-percikan dari hidung atau mulut yang keluar dari orang yang terpapar Covid-19. Percikan-percikan itu kemudian jatuh ke benda-benda dan permukaan-permukaan sekitar. Orang yang menyentuh benda atau permukaan tersebut lalu menyentuh mata, hidung atau mulutnya, atau bisa terjadi jika orang menghirup percikan orang yang terjangkit Covid-19. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menjaga jarak lebih dari 1 meter`dari orang yang sakit, dan mematuhi protokol pencegahan Covid-19 yang sudah ditentukan pemerintah.
Setelah pemerintah mengumumkan melalui Surat Edaran bahwa semua siswa harus belajar di rumah mulai tanggal 16 -29 Maret 2020 dalam rangka mencegah penyebaran Covid 19, di mana-mana yang dibicarakan hanya Corona, di televisi, di medsos, yang diberitakan hanya Corona. Sekolah- sekolah yang semula sudah diprogramkan untuk PTS ( Penilaian Tengah Semester) akhirnya gagal dilaksanakan, UN juga ditiadakan. Program-program sekolah yang sudah direnacanakan sejak lama, banyak yang tidak dapat dilakasanakan. Di sekolah saya mengajar, PTS sudah dijadwalkan hari Senin Tanggal 16 -21 Maret 2020 juga gagal, soal yang sudah tercetak diberikan kepada siswa untuk dikerjakan di rumah, dan dikembalikan kalau sudah masuk sekolah.
Belum habis waktu yang ditentukan masa belajar di rumah yang pertama, disusul lagi dengan Surat Edaran yang ke dua, dan seterusnya, yaitu masa belajar di rumah diperpanjang hingga tanggal 1 Juni 2020, disebabkan situasi perkembangan orang yang terpapar Corona semakin meningkat. Otomatis guru-guru harus menyiapkan materi untuk pembelajaran di rumah lebih banyak. Siswa digilir untuk datang ke sekolah untuk mengembalikan hasil PTS yang dikerjakan di rumah dan mengambil LKS yang akan dipelajari selanjutnya. Guru memantau dari rumah dengan memberi tugas belajar yang harus dikerjakan oleh siswa di setiap hari efektif.
Anak-anak mulai gelisah, banyak yang menanyakan pada gurunya kapan masuknya, wali murid juga banyak yang mengeluh karena anaknya minta sekolah. bahkan ada yang karena rindunya dengan sekolah,dia minta di antar ke sekolah sekedar untuk menengok sekolah saja, sampai di sekolah berkeliling sebentar lalu pulang dengan merasa gembira karena rindunya telah terobati.
Setelah TFH (Teaching Form Learning) sudah berjalan beberapa hari Kemenag memberikan aplikasi untuk pembelajaran di rumah yaitu E Learning Madrasah. Semua madrasah dianjurkan menggunakan aplikasi ini. Operator madrasah berupaya untuk mengaplikasikan E-Learning tersebut dan menjelaskan pada guru-guru cara login, mengisi dan menggunakan aplikasi tersebut. Tidak semua guru memiliki kemampuan IT yang baik, bagi mereka yang memiliki kemampuan IT yang baik dengan cepat bisa mengoperasikan aplikasi tersebut, namun bagi yang kemampuan IT nya kurang, harus bersabar sampai benar-benar bisa mengoperasikan dengan baik. Alhamdulillah dalam waktu seminggu semua guru di MI Nurul Iman sudah bisa melakukan pembelajaran di E-Learning Madrasah. Dan semua guru sudah bisa mencoba melakukan tes daring melalui E-Learning Madrasah tersebut.
Banyak kendala yang muncul saat pelaksanaan TFH dan menggunakan E- Learning Madrasah, antara lain tidak semua siswa aktif melaksanakan tugas guru, karena tergantung orangtua masing-masing. Ada yang masa bodoh dengan anaknya mengerjakan atau tidak. Ada yang sangat aktif, kurang lebih 80% siswa yang aktif. Siswa yang tidak aktif rata-rata kurang perhatian orang tua, ada yang terkendala karena HP nya hanya satu, dan digunakan untuk kerja, jadi pembelajaran hanya bisa dilakukan oleh anak tersebut kalau orangtuanya sudah pulang. Ada juga yang sinyalnya kurang bagus, atau HP nya bukan Androit, sehingga orang tuanya bingung karena tidak bisa mengoperasikan. Dengan sabar bapak/ibu guru aktif menanyakan kepada walinya bila siswa tidak aktif belajar, dan mencari solusi apabila ada kendala..
Setelah menggunakan E-Learning Madrasah, keaktifan siswa mulai meningkat, kebanyakan anak-anak senang dengan mengerjakan tugas di E learning. Karena bisa mengerjakan sendiri dengan menekan jawaban yang dianggap benar, itu ada kesenangan sendiri bagi anak-anak. Apalagi bisa langsung melihat nilainya, bagi yang mendapat nilai 100 pasti bangga sekali. Bagi anak-anak yang kemampuanya kurang, soal tidak dicermati dengan baik yang penting asal tombol. Namun semakin lama berlatih hasilnya semakin bagus, walaupun ada beberapa kendala namun bisa teratasi. Berbeda lagi dengan anak kelas 6, tes online sudah dilaksanakan hasilnya justru kurang menggembirakan, banyak bermain Game di rumah mengakibatkan malas belajar dan menjawab soal-soal tesnya asal-asalan atau kurang sungguh-sungguh. Kebanyakan anak-anak kelas 6 sudah memiliki HP sendiri, kalau orang tua tidak mengontrol dengan baik, akan mengakibatkan anak-anak lebih suka main game saja, sedangkan belajarnya kurang maksimal.
Awalnya guru-guru merasa enggan untuk belajar di E-learning Madrasah, namun karena ini merupakan program dari Kemenag yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh semua madrasah, selain itu dari pihak pengawas juga sering menanyakan terlaksananya E- Learning di madrasah, akhirnya semua guru termotivasi untuk menggunakan E-Learning dan mencoba untuk melaksanakan tes daring melalui E-Learning Madrasah, hingga tes daring melalui E-Learning Madrasah dapat terlaksana dengan baik.
Banyak hikmah yang diperoleh ketika melakukan pembelajaran di rumah, bagi siswa adalah mendapat pengalaman baru yg belum pernah dilakukan di waktu belajar di sekolah yaitu tes online. Di rumah anak-anak lebih dekat dengan keluarga terutama ayah dan ibunya. Guru juga menjadi lebih berpengalam membuat soal -soal online. Semoga pandemi Covid-19 cepat berakhir, hingga aktifitas belajar mengajar dilaksanakan dengan normal. Kerinduan anak-anak terhadap guru, atau sebaliknya kerinduan guru-guru kepada siswanya segera terobati.
Nuriyah Minurika